Belum Genap Setahun Tagore-Armia Menjabat, Tingkat Kemiskinan Turun Menjadi 16,20%

Lisma Warda | Senin, 17 November 2025 | Informasi Pemerintahan  Informasi Umum 

Bener Meriah | Kabupaten Bener Meriah menunjukkan tren positif dalam upaya pengentasan kemiskinan, namun otoritas statistik daerah memberikan catatan penting terkait kondisi deflasi (penurunan harga) yang terjadi di awal November. Tren positif kemiskinan dan perkembangan Indeks Perubahan Harga ini menjadi fokus utama dalam evaluasi kinerja ekonomi daerah menjelang tahun anggaran 2025.

Penurunan Angka Kemiskinan: Tren Positif Berlanjut

Data terbaru menunjukkan adanya penurunan signifikan pada persentase kemiskinan di Kabupaten Bener Meriah. Angka kemiskinan diproyeksikan menurun dari 18,18% (data BPS 2024) menjadi 16,20% (data BPS 2025). Penurunan ini mengindikasikan bahwa upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi disparitas ekonomi mulai membuahkan hasil.

"Jika dilihat dari segi kemiskinan, kita melihat ada tren positif yang jelas karena adanya penurunan persentase kemiskinan," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Devi Indirastuti, S.St., M.Si., yang diwakili Staf Bidang Publikasi, Taufik, saat diwawancarai di Ruang Lobby BPS Bener Meriah, Kamis (13/11/2025)

Indeks Perubahan Harga (IPH): Bener Meriah Mengalami Deflasi

Meskipun penurunan kemiskinan adalah kabar baik, otoritas statistik menyoroti kondisi IPH yang justru bergerak ke arah deflasi pada minggu pertama November ini, dengan angka minus 3,42%.

Deflasi terjadi ketika terjadi penurunan harga barang dan jasa secara umum. Kontributor terbesar deflasi ini berasal dari komoditas pangan, yaitu:

• Cabai Merah: Menjadi penyumbang andil terbesar, kemungkinan besar akibat panen raya yang meningkatkan pasokan secara drastis, sehingga harga turun dari sekitar Rp50.000 menjadi Rp40.000.

• Beras

• Daging Ayam

Indek Perubahan Harga Justru Diperlukan

Deflasi, atau inflasi di bawah batas aman, bukanlah indikator ekonomi yang ideal. BPS menjelaskan bahwa inflasi yang sehat dan aman justru diperlukan untuk mendorong perputaran ekonomi dan permintaan. "Inflasi yang aman itu berada di kisaran 1,5% sampai 3,5%," jelas BPS. "Malah terkadang kita butuh inflasi, bukan deflasi. Karena ketika terjadi inflasi yang terkontrol, itu menunjukkan adanya permintaan dan perputaran ekonomi yang baik," ujar Taufik.(Rel/MHA)