Pelaksanaan Program Pengembangan Lahan Perkebunan dan Kolam Ikan Pasca Bencana Mengalami Kemajuan Melalui Dinas Pertanian
PPID Utama | Rabu, 23 September 2026 | Informasi Pemerintahan Informasi Umum
Bener Meriah, 21 September 2026 – Dinas Pertanian Kabupaten Bener Meriah mencatat dampak signifikan dari pelaksanaan Program Pengembangan Lahan Perkebunan dan Kolam Ikan selama 2 tahun terakhir, 2024-2026. Program ini menyasar 4.500 KK petani dan pembudidaya ikan di 10 kecamatan sebagai upaya penguatan ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan, dan kelestarian lingkungan sesuai dengan Visi , Misi Bupati dan Wakil Bupati RPJMD tahun 2025 - 2029 Bener Meriah.
Plt.Kepala Dinas Pertanian Kab. Bener Meriah Uswatun Hasanah, S.Pmp,menyampaikan bahwa program ini dirancang terintegrasi agar satu kegiatan berdampak ke 3 aspek sekaligus.1. Dampak Ekonomi Pendapatan Petani Naik, Lapangan Kerja Terbuka Program bantuan bibit kopi arabika unggul, alat pasca panen, dan peremajaan lahan telah menyentuh 2.000 Ha lahan perkebunan dengan 3.000 KK penerima manfaat.Data Konkret:Produktivitas kopi naik 35%: Dari rata-rata 800 kg/Ha menjadi 1.080 kg/Ha setelah penerapan GAP dan peremajaan.Pendapatan petani naik 28%: Harga jual kopi mutu ekspor naik dari Rp 42.000/kg menjadi Rp 54.000/kg.Terbuka 450 lapangan kerja baru di sektor pasca panen, pengolahan, dan pemasaran kelompok tani.“Dengan bantuan mesin hullers dan pulper, petani tidak lagi jual kopi asalan. Mutu naik, harga naik. Ekonomi desa bergerak,” ujar Uswatun Hasanah,
2.Dampak Ketahanan Pangan: Produksi Ikan Lokal Naik, Harga Stabil Melalui Pogram Desa Mandiri Ikan dan Mina Padi Dinas melakukan upaya peningkatan produksi ikan. Untuk peningkatan produksi Dinas juga meningkatkan produksi benih yang berkualitas higienis dan aman bagi pembudidaya ikan terutama yang ada di Kabupaten Bener mrlalui Balai Benih Ikan Timang Gajah Kec. Gajah Putih dan BBI Teget Kec. Pintu Rime Gayo dengan induk bersumber bantuan dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) . Dinas juga - menyalurkan bantuan 50.000 ekor benih nila dan mas, serta pakan kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB), kegiatan cetak kolam masyarakat dalam upaya ngembangan budidaya ikan. Data Konkret:Produksi ikan budidaya naik 21%: Dari 180 ton/tahun 2023 menjadi 558 ton/tahun 2025. Cakupan konsumsi ikan masyarakat naik. Utuk tahun 2026 produksi ikan di Bener Meriah selain untuk Kebutuhan lokal juga dipasarkan ke Takengon, selain itu 200 Ha sawah dikembangkan dengan sistem Mina Padi. 1 lahan menghasilkan padi + ikan. Efisiensi lahan meningkat.“Ini bukti ketahanan pangan kita kuat. Saat harga ikan luar daerah naik, masyarakat Bener Meriah tetap bisa akses ikan murah dari kolam sendiri,” jelasnya.3. Dampak Lingkungan: Pertanian Ramah Lingkungan Dan Konservasi Air
Program ini tidak hanya kejar produksi, tapi juga menjaga daya dukung lingkungan.Data Konkret:500 Ha lahan beralih ke pertanian organik: Pengurangan penggunaan pupuk kimia 40% melalui bantuan pupuk organik dan pelatihan.Pengembangan Mina Padi di 200 Ha: Mengurangi penggunaan pestisida karena ikan mengendalikan hama. Efisiensi air 30%.Rehabilitasi 1.500 Ha lahan tua: Mencegah alih fungsi lahan hutan dan erosi di kawasan hulu DAS.“Kami dorong petani untuk tidak babat hutan baru. Cukup optimalkan lahan yang ada dengan pola tanam tumpang sari dan mina padi. Ini investasi untuk anak cucu,” tambah Kadis.
Kunci Keberhasilan: Koloborasi Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi Dinas Pertanian dengan Pemerintah Desa, Penyuluh PPL, Kelompok Tani, dan KUB. Pendampingan intensif 1x sebulan oleh 42 orang PPL memastikan bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan.Ke depan, Dinas Pertanian menargetkan perluasan program ke 500 Ha baru untuk perkebunan dan 500 kolam baru pada 2027, dengan fokus pada hilirisasi produk dan sertifikasi organik untuk ekspor.
Dan hambatan sebelumnya yang lalu terhadap sejumlah kolam budidaya yang mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Bener Meriah, (25/11/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan verifikasi kondisi lapangan sebagai dasar percepatan rehabilitasi sarana yang terdampak bencana serta memastikan langkah penanganan dan pemulihan berjalan secara terpadu. satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pemerintah Pusat melakukan mini touring dan evaluasi lapangan ke sejumlah titik terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Selasa 26 Agustus 2026.Kunjungan ini fokus meninjau kerusakan infrastruktur produktif, khususnya kolam ikan budidaya dan lahan perkebunan milik masyarakat yang menjadi tumpuan ekonomi warga.Plt, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bener Meriah, Uswatun Hasanah, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat melalui Satgas PRR yang turun langsung meninjau lokasi terdampak. “Rehabilitasi kolam yang rusak sangat penting untuk mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya para pembudidaya perikanan yang terdampak bencana. Kami berharap bantuan ini segera bisa dirasakan masyarakat,” ujar Uswatun Hasanah.
Dampak yang di laporkan ke SATGAS PRR dari hasil pendataan awal Dinas Pertanian, bencana berdampak pada 3 aspek utama:Ekonomi Sebanyak 320 kolam ikan dan 450 Ha lahan perkebunan kopi, alpukat, dan kakao terdampak. Kerugian ditaksir Rp 8,7 Miliar. 1.200 KK pembudidaya dan petani kehilangan sumber pendapatan utama
Ketahanan Pangan Produksi ikan lokal turun 40?n pasokan sayur dari lahan terdampak terhenti. Hal ini berpotensi menaikkan harga pangan di 1 kecamatan.
Lingkungan Longsor dan sedimentasi merusak saluran irigasi kolam serta menyebabkan erosi di lahan miring. Diperlukan normalisasi dan konservasi tanah.
Langkah lanjut Melalui kegiatan mini touring dan evaluasi lapangan ini diharapkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Kabupaten Bener Meriah dapat segera direalisasikan, sehingga sarana produktif masyarakat kembali berfungsi dan mendukung percepatan pemulihan ekonomi serta ketahanan masyarakat pascabencana.Dinas Pertanian bersama Satgas PRR menyepakati 3 prioritas percepatan:Perbaikan darurat 150 kolam ikan milik kelompok rentan agar bisa segera tebar benih .
Bantuan bibit dan pupuk untuk 300 Ha lahan perkebunan terdampak Pelatihan manajemen risiko bencana bagi kelompok tani dan KUB“Kami targetkan 2 bulan ke depan sarana produktif sudah kembali berfungsi. Dengan begitu roda ekonomi masyarakat bisa berputar lagi,” tutup Uswatun Hasanah.(Md-KominfoBm)